
Chinese stock markets fell sharply on April 25, 2022, with the CSI 300 closing nearly 5% lower on renewed lockdown concerns. The yuan also plunged, and oil dropped below $100 on worries over Chinese demand.
Lockdown-driven slowdown in China cuts expected demand for feed grains, oilseeds and meat, and lower oil prices reduce biofuel and freight cost support.
Setelah 14 peristiwa geopolitik bullish sebelumnya, Yuan Tiongkok (CNY per USD) bergerak median -0,0% selama 5 sesi (36% lebih tinggi; separuh tengah -0,4% sampai +0,2%), dan -0,5% selama 20 sesi.
Setelah 255 peristiwa geopolitik bearish sebelumnya, Minyak Mentah (WTI) bergerak median -2,4% selama 5 sesi (31% lebih tinggi; separuh tengah -7,0% sampai +1,7%), dan -5,0% selama 20 sesi.
Setelah 250 peristiwa geopolitik bearish sebelumnya, Minyak Mentah (Brent) bergerak median -3,1% selama 5 sesi (36% lebih tinggi; separuh tengah -7,9% sampai +1,6%), dan -5,5% selama 20 sesi.
Setelah 53 peristiwa geopolitik bearish sebelumnya, Kedelai bergerak median -0,3% selama 5 sesi (47% lebih tinggi; separuh tengah -1,9% sampai +1,2%), dan +1,0% selama 20 sesi.
Pergerakan benchmark setiap komoditas dari penutupan terakhir sebelum peristiwa. Pembacaan historis menggabungkan peristiwa serupa di masa lalu; itu menggambarkan apa yang terjadi, bukan apa yang akan terjadi. Bukan nasihat investasi.
Same-day lockdown angst in Beijing/Shanghai triggered a CSI 300 plunge of nearly 5% and a yuan sell-off, which directly explains the outsized 1-day CNY move (sentiment/risk aversion).