
After the Senate passed its farm bill, China imposed a 25% tariff on $34 billion of US goods, and soybean futures hit a nine-year low. Mexico raised tariffs on US dairy to as high as 25%, Turkey imposed tariffs on agricultural goods, and Russia won wheat sales from US growers.
New retaliatory tariffs on US soybeans, cotton, and other exports reduce demand and widen the price discount for US commodities against competitors like Russian wheat.
Setelah 803 peristiwa perdagangan bearish sebelumnya, Kedelai bergerak median +0,0% selama 5 sesi (51% lebih tinggi; separuh tengah -1,7% sampai +1,7%), dan +0,9% selama 20 sesi.
Setelah 683 peristiwa perdagangan bearish sebelumnya, Jagung bergerak median -0,2% selama 5 sesi (47% lebih tinggi; separuh tengah -1,7% sampai +1,6%), dan +0,3% selama 20 sesi.
Setelah 375 peristiwa perdagangan bearish sebelumnya, Gandum (SRW) bergerak median -0,2% selama 5 sesi (47% lebih tinggi; separuh tengah -2,0% sampai +1,1%), dan -0,1% selama 20 sesi.
Setelah 49 peristiwa perdagangan bearish sebelumnya, Susu (Class III) bergerak median -0,3% selama 5 sesi (39% lebih tinggi; separuh tengah -4,7% sampai +1,5%), dan -0,4% selama 20 sesi.
Pergerakan benchmark setiap komoditas dari penutupan terakhir sebelum peristiwa. Pembacaan historis menggabungkan peristiwa serupa di masa lalu; itu menggambarkan apa yang terjadi, bukan apa yang akan terjadi. Bukan nasihat investasi.