
Meteorologist Jim Roemer argues that the end of La Niña is bearish for most grain markets because spring weather is favorable, while recalling the lessons of past Plains wheat drought. The analysis draws on NOAA ENSO forecasts and USDA data.
Favorable spring weather reduces the risk premium in grains, pressuring corn, soybeans and wheat, though Plains wheat drought risk remains a lingering concern.
Setelah 334 peristiwa cuaca bearish sebelumnya, Gandum (SRW) bergerak median -0,2% selama 5 sesi (47% lebih tinggi; separuh tengah -1,9% sampai +1,7%), dan -0,2% selama 20 sesi.
Setelah 70 peristiwa cuaca bearish sebelumnya, Gandum (HRW) bergerak median -0,6% selama 5 sesi (41% lebih tinggi; separuh tengah -3,9% sampai +2,5%), dan -1,1% selama 20 sesi.
Setelah 357 peristiwa cuaca bearish sebelumnya, Jagung bergerak median -0,3% selama 5 sesi (44% lebih tinggi; separuh tengah -2,2% sampai +1,3%), dan -0,5% selama 20 sesi.
Setelah 363 peristiwa cuaca bearish sebelumnya, Kedelai bergerak median -0,6% selama 5 sesi (42% lebih tinggi; separuh tengah -2,5% sampai +1,1%), dan -0,2% selama 20 sesi.
Pergerakan benchmark setiap komoditas dari penutupan terakhir sebelum peristiwa. Pembacaan historis menggabungkan peristiwa serupa di masa lalu; itu menggambarkan apa yang terjadi, bukan apa yang akan terjadi. Bukan nasihat investasi.