
The Chinese renminbi fell to a 13-month low against the dollar amid a worsening US trade dispute and a slowing economy growing 6.5% in the current quarter. Analysts speculate Beijing may be allowing depreciation to offset tariff costs.
A weakening renminbi and slowing Chinese growth reduce demand for imported feed ingredients and raise the cost of imports. The tariff dispute adds downside risk to US agricultural exports to China.
Setelah 40 peristiwa perdagangan bullish sebelumnya, Yuan Tiongkok (CNY per USD) bergerak median +0,6% selama 5 sesi (75% lebih tinggi; separuh tengah +0,0% sampai +1,4%), dan +1,1% selama 20 sesi.
Setelah 803 peristiwa perdagangan bearish sebelumnya, Kedelai bergerak median +0,0% selama 5 sesi (51% lebih tinggi; separuh tengah -1,7% sampai +1,7%), dan +0,9% selama 20 sesi.
Setelah 683 peristiwa perdagangan bearish sebelumnya, Jagung bergerak median -0,2% selama 5 sesi (47% lebih tinggi; separuh tengah -1,7% sampai +1,6%), dan +0,3% selama 20 sesi.
Pergerakan benchmark setiap komoditas dari penutupan terakhir sebelum peristiwa. Pembacaan historis menggabungkan peristiwa serupa di masa lalu; itu menggambarkan apa yang terjadi, bukan apa yang akan terjadi. Bukan nasihat investasi.